Feeds:
Posts
Comments

BAB I

PENDAHULUANtugas

1.1 Latar Belakang

Alga adalah organisme berklorofil, tubuhnya merupakan talus (uniselular atau multiselular), alat reproduksi pada umumnya berupa sel tunggal, meskipun ada juga alga yang alat reproduksi tersususn dari banyak sel (Sulisetijono, 2009).

Alga dipelajari khusus dalam cabang ilmu biologi yang disebut fikologi. Catatan pertama mengenai alga ditemukan dalam literatur berbahasa Cina kuno dan dikenal sebagai Tsao. Istilah alga dalam bahasa Yunani dan Romawi adalah Phycos dan Fucus. Di Hawai, alga telah di kenal cukup lama sebagai makanan yang disebut Limu (Sulisetijono, 2009). Untuk itu dalam pengamatan Alga ini, kita diharapkan benar- benar mengetahui bercam keanekaragaman tumbuhan pada air tawar, air kolam, air sungai, dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah

  1. Dari kelas apa saja alga yang hidup di Cagar?

  2. Bagaimana ciri-ciri dan bagian-bagian dari alga yang hidup di Cagar?
  3. Apa saja peranan dari alga?

1.3 Tujuan

  1. Untuk mengetahui macam-macam alga yang hidup di Cagar

  2. Untuk mengetahui ciri-ciri dan bagian-bagian dari alga yang hidup di Cagar

  3. Untuk mengetahui peranan alga

1.4 Manfaat

  1. Untuk memberi informasi kepada masyarakat bahwa banyak alga yang dapat dimanfaatkan.

  2. Alga dapat dikembangkan sebagai salah satu bahan baku biodiesel

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

    1. Pengertian Alga

Menurut Fritsch dalam Gupta (1981), alga mencakup semua organisme yang dapat melakukan fotosintesis kecuali lumut dan tumbuhan berpembuluh. Penampakan pigmen atau kloroplas dapat dijadikan dasar pengelompokan variasi alga kedalam kelasnya. Perbedaan warna chloroplas ada hubungannya dengan kondisi alami dan jumlah pigmen tambahan yang ada pada selain pigmen utama yaitu klorofil yang berwarna hijau.

Alga merupakan tumbuhan yang hidup pada perairan laut. Alga berukuran besar tergolong dalam tiga division yakni Chlorophvta (alga hijau), Phaeophvta (alga coklat), Rhodophyta ( alga merah). Pigmen yang terdapat pada alga merah dapat diketahui melalui proses ekstraksi dengan menggunakan pelarut aseton, metanol, petrolium eter dan dietil eter, kemudian dianalisis dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dan diserap dengan spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukan bahwa pigmen yang terdapat pada alga merah K.alvarezii path umumnya adalah B-karoten, feofitin,violaxanthin dan klorofil (Sunadi, 2000(

Habitat alga adalah ditempat yang berair, misalnya air sungai, kolam, rawa,laut, tanah yang lembab, pohon dan sebagainya. Alga ditemukan disumber air panas, disalju daerah dan puncak gunung yang tinggi, bahkan diperairan yang mengandung boraks di lamongan juga ditemukan (Sulistijono, 2009).

Ganggang biru termasuk prokariotik, warnanya hijau kebiruan karena cukup dominansinya pigmn aden pikosianin. Cirri has yang lainya adalah lapisan glatinous yang membungkus talus. Talus ganggang ini ada yang berupa sel tunggal, koloni, dan filament. Ganggang uniseluler ada yang bergerak(motil) dengan bantuan bulu cambuk (flagel). Misalnya Chalamydomonas. Ganggang uniseluler yang tidak dapat bergerak misalnya Chlorella (Sulistijono, 2009).

Alga merupakan kelompok tumbuhan rendah terdapat dua tipe sel baik yang bersifat prokariotik maupun eukariotik. Pada sel prokariotik invaginasi membrane belum sempurna, oleh karena itu tidak dilengkapi organela. Dengan demikian sel tanpa dilengkapi plastida, mitokondria, inti, badan golgi, dan flagella. Hal ini berbeda dengan alga yang bersifat eukariotik, telah dilengkapi organela tersebut. Sel eukariotik dilindungi oleh dinding sel yang tersusun oleh polisakarida, sebagian dibentuk atau disekresi oleh badan golgi. Membran plasma (plasmalema) yang menyelubungi bagian sel (Sulitjiono, 2009).

Beberapa alga memiliki siklus hidup dengan pergiliran generasi multi seluler haploid dan diploid. Beragam siklus hidup telah berevolusi di antara alga coklat, alga merah, dan alga hijau multiseluler. Siklus yang paling kompleks meliputi pergiliran generasi (altenation of generations), pergiliran bentuk haploid multiseluler dan bentuk diploid multiseluler. (perhatikan bahwa kondisi haploid dan diploid bergantian dalam semua siklus hidup seksual – gamet manusia. Misalnya, adalah suatu tahap haploid- akan tetapi istilah pergiliran generasi hanya dipakai untuk siklus hidup yang meliputi tahapan haploid dan diploid yang keduanya adalahorganisme multiseluler) (Campbell, 2002).

Individu diploid disebut saprofit karena saprofit menghasilkan sel reproduktif yang dusebut spora (zoospora). Individu haploid disebut gameterofit, yang dinamai menurut produksi gametnya. Pada kedua generasi saling bergantian – mereka bergiliran menghasilkan satu sama lain. Spora yang dilepaskan saprofit berkembang menjadi gameterofit, yang selanjutnya menghasilkan gamet. Penyatuan dua gamet (fertilisasi, atau singami) menghasilkan suatu zigot diploid, yang kan tumbuh menjadi suatu saprofit baru (Campbell, 2002).

    1. Klasifikasi

Konsep klasifikasi alga yang modern didasarkan pada beberapa kriteria sebagai berikut:

  1. Pigmen meliputi jenis dan jumlah
  2. Bentuk atau wujud cadangan makanan
  3. Flagel meliputi tipe dan jumlah flagel, morfologi, dan kedudukan
  4. Dinding sel meliputi susunan atau struktur berdasarkan pengamatan mikroskop
  5. Struktur sel meliputi ada tidaknya membrane sel

Menurut Round (1965), berdasarkan ide staner dan Van Niel membagi alga menjadi 8 filum dan masuk dalam kelompok prokariota dan eukariota. Selengkapnya klasifikasi menurut Round (dari Gupta, 1981) adalah sebagai berikut:

Prokarita Eukariota

Phylum Cyanophyta Phylum Euglenophyta

Phylum Chlorophyta

Phylum Chrysophyta

Phylum Phyrrophyta

Phylum Phaeophyta

Phylum Rhodophyta

Phylum Cryptophyta.

    1. Deskripsi
      1. Phylum Cyanophyta

Ganggang biru ditemukan di aneka macam habitat seperti sungai, kolam, atau danau mulai dari suhu rendah sampai tinggi. Ganggang biru dapat tumbuh dengan cepat sehingga menutupi perairan, hal ini disebut water bloom. Water bloom dapat mengganggu kehidupan tumbuhan dan hewan yang hidup di bawah permukaan air (Sulisetiono, 2009).

Secara umum ada 3 bentuk talus ganggang biru yaitu sel tunggal, koloni, dan filament. Ketiga macam betuk talus umumnya dilapisi oleh selaput seperti gelatin (gelatinous) yang bening. Pada ganggang biru berbentuk filamen dikenal istilah trichome atau filament. Filamen adalah deretan atau rangkaian sel-sel yang berada di dalam selubung seperti gelatin (Sulisetiono, 2009).

Dinding sel terdiri dari 2 lapis yaitu lapisan dalam lebih tipis, sedangkan lapisa luar lebih tebal dan gelatinous. Selubung gelatinous tersusun dari benang-benang selulosa. Selubung gelatinous umumnya bening tetapi ada yang berwarna coklat yang disebabkan bercapurnya pigmen fuscorhodin dan fuscorchlorin. Warna merah dan violet disebaka pigmen glococapsin Protoplasma dibagi menjadi dua bagian yaitu bagian tepi yang berwarna disebut kromatoplasma, bagian tengah yang tidak berwarna (bening) disebut sentroplasma. Pada sentroplasma terdapat DNA dan RNA. Pada kromatoplasma terdapat pigmen C-phycocyanin, C-phycoerthrin, mycoxanthin, myco-xanthophyll carotene, dan chlorophyll. Warna biru disebabkan oleh pigmen phycocianin (Sulisetiono, 2009).

Reproduksi seksual tidak ditemukan pada Cyanophyta, ganggang ini berkembangbiak secara vegetatif yaitu pembelahan sel dan fragmentasi, dan sporik yaitu akinet, endospora, ektospora dan nanospora (Sulisetiono, 2009).

      1. Phylum Euglenophyta

Sebagian besar hidup di air tawar tetapi ada beberapa yang hidup di air laut terutama di tempat yang mengandung bahan organik. Susunan tubuh pada kelompok ini adalah sel tunggal, tetapi ada beberapa spesies yang berbentuk koloni (Sulisetiono, 2009).

Susunan tubuh dibatasi oleh pelikel atau periplas yang merupakan membrane plasma yang menebal. Plastida ada yang berpigmen tersusun banyak dan berbentuk cakram yang mengadug pirenoid. Pigmen terdiri atas klorofil a dan b, β karoten. Cadangan makanan disebut paramilun dalam bentuk butir yang tersebar diantara plastida. Alat gerak utama adalah flagel bertipe tinsel (Sulisetiono, 2009).

Reproduksi hanya dengan satu cara yaitu pembelahan sel biner logitudial. Pada keadaan yang tidak mengutungkan hidup secara vegatatif dengan membentuk sista (Sulisetiono, 2009).

      1. Phylum Chlorophyta

Chlorophyta merupakan kelompok alga yang paling banyak ditemukan di air tawar, hanya sebagian kecil yang hidup di laut. Di perairan Chlorophyta hidup sebagai plankton. Plankton adalah organisme kecil yang hidup melayang-layang dalam air yang dapat menjadi sumber makanan bagi hewan air dan ikan. Chlorophyta juga ada yang melekat pada tanah yang basah, tembok yang lembab, pada batang tumbuhan lain, dan ada yang hidup melekat pada tubuh hewan (Aziz, 2008).

Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal, pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali mencul apabila air menjadi surut (Sulisetijono, 2009)

Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas. itulah mengapa Chlorophyta disebut dengan alga hijau. Cholorophyta tidak selalu berwarna hijau karena beberapa anggotanya memiliki pigmen yang memberikan warna jingga, merah atau merah kehitaman. Bentuk kloroplas pada Chlorophyta bernacam-macam. Misalnya pada Chlamidomas berbentuk mangkuk, Spioigyra berbentuk spiral, dan Chlorella berbentuk bulat. Pada kloroplas ditemukan pirenoid dan stigma. Pirenoid adalah rongga yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan cadangan makanan berupa amilum. Stigma adalah bagian yang sensitif terhadap cahaya, berguna untuk menuntun Chlorophyta menuju cahaya sehingga proses fotosintesis dapat berlangsung (Aziz, 2008).

Tubuh Chlorophyta ada yang uniseluler, multiseluler, koloni, dan filamen. Sel-sel Chlorophyta dikelilingi oleh dinding sel sehingga memiliki bentuk yang tetap. Chlorophyta dipercaya sebagai asal mula tumbuhan darat. Alasan ini mendukung hipotesisi ini adlah memiliki klorofil a dan b, memiliki dinding sel berupa selulosa, dan menyimpan cadangan makanan berupa zat tepung (amilum) (Aziz, 2008).

Reproduksi Chlorophyta dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir dengan dua sampai empat bulu cambuk, mempunyai vakuola kontraktil dan kebanyakan memiliki satu stigma. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan konjugasi. Hasil konjugasi berupa zigospora yang tidak mempunyai alat gerak. Contoh Chlorophyta antara lain Chlorella, Chorooccum, Volvox, Gonium, Ulva, dan Spirogyra (Aziz, 2008).

      1. Phylum Chrysophyta

Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Cadangan makanan berupa leucosin dan karbohidrat. Dinding sel tersusun dua bagian yang over lapping dan mengandung silika. Susunan sel soliter atau koloni, ada yang berflagel dan ada yang tidak berflagel (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi aseksual menggunakan spora berflagel atau spora tidak berflagel. Spora yang tidak berflagel disebut statospora. Reproduksi seksual biasanya isogamus melalui penyatuan gamet berflagel atau tidak berflagel tetapi dapat juga isogamus atau oogamus (Sulisetijono, 2009).

2.3.5 Phylum Phyrrophyta

Pada umumnya hidup di laut, beberapa diantaranya ada di air tawar. Beberapa Dinophyceae mengakibatkan keracunan dan kematian pada ikan. Keadaan tersebut disebabkan oleh suatu fenomena alam yang disebut red tide. Red tide adalah air yang banyak mengandung sejumlah Dinophyceae atau organisme yang menyebabkan warna air menjadi merah. Jenis red tide yang lainnya adalah Pyrodinium bahamensa yang cukup berbahaya karena dapat mengakibatkan keracunan PSP (Paralityc Shelfish Poisoning) pada manusia setelah mengkonsumsi biota laut (Sidabutar dan Yusuf, 1995). Susunan tubuh umumnya berbentuk tunggal, tetapi ada yang berbentuk filament bercabang (Sulisetijono, 2009).

Dinding sel umumnya mengandung selulose yang bersifat homogen atau tersusun atas lempengan. Bentuk dan susunan lempeng bervariasi, lempengan bagian atas disebut epikon dan bagian bawah hipokon, diantaranya terdapat sabuk yang letaknya melintang disebut singulum sedang yang letaknya membujur disebut sulkus. Pigmen yang terdapat pada kelompok ini adalah klorofil a dan c, karotenoid yaitu peridinin dan neoperidinin (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi secara vegetatif dengan fragmentasi dan pembelahan sel. Sporik dengan zoospora dan aplanospora. Secara gametik dengan isogami zoogami dan anisogami zoogami (Sulisetijono, 2009).

      1. Phylum Phaeophyta

Phaeophyta (berasal dari bahasa Yunani, phaios yang berarti gelap), merupakan alga multiseluler yang dikenal dengan nama alga coklat. Warna coklatnya berasal dari pigmen fukosantin yang dimilikinya (Pitriana, 2008).

Selain pigmen coklat, pada Phaeophyta ditemukan juga pigmen lainnya berupa klorofil a dan c, serta pigmen karotin. Oleh karena keberadaan klorofil ini, Phaeophyta bersifat autotrof. Fotosintesisnya terjadi pada helaian yang menyerupai daun. Hasil fotosintesisnya berupa karbohidrat yang yang disebut laminarin (Pitriana, 2008).

Alga coklat umumnya hidup di lingkungan laut. Hanya beberapa jenis Phaeophyta yang saja yang hidup di air tawar. Banyak alga coklat memiliki struktur berisi udara yang membuat mereka dapat melayang di air (Pitriana, 2008).

Phaeophyta hidup melekat pada dasar perairan (melalui semacam akar), sedangkan bagian tubuh lainnya mengapung di air, dan melekat pada batu karang (Aziz, 2008).

Bentuk tubuh Phaeophyta tampak menyerupai tumbuhan tingkat tinggi karena adanya bagian yang menyerupai akar, batang, dan daun. Tinggi Phaeophyta dapat mencapai 50 sampai 100 meter (Aziz, 2008).

Anggota kelopok Phaeophyta juga dikenal sebagai tumbuhan berukuran raksasa (giant kleps), misalnya Macrocystis sp. dan Nereocytis sp. yang menghuni pantai pasifik. Di indonesia, jenis Phaeophyta yang terkenal adalah Turbinaria austrilis, Sargasum siliquosum, dan Fucus vesiculosus. Ketiga jenis alga tersebut biasa dijimpai sepanjang garis pantai. Di laut yang beriklim sedang, terutama di laut Atlantika Utara dikenal sebagai kawasan Alga Sargassum. Alga tersebut tampak mengambang dan menutupi sebagian permukaan laut sehingga orang mengenalnya sebagi Sargaso (Aziz, 2008).

Reproduksi pada alga coklat terjadi secara aseksual dan seksual. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi dan pembentukan zoospora berflagel. Adapun reproduksi seksual secara oogami atau isogami. Alga coklat juga mengalami metagenesis atau pergiliran keturunan (Pitriana, 2008).

      1. Phylum Rhodophyta

Alga merah atau Rhodophyta (berasal dari bahasa Yunani, rhodon, yang artinya merah). Rhodophyta merupakan alga multiseluler berukuran besar yang biasa dikenal sebagai rumput laut. Warnanya merah karena mengandung pigmen fikoeritrin (Pitriana, 2008).

Alga merah hidup di luat dalam, terutama di laut beriklim panas. Anggota kelompok alga merah dapat ditemukan di daerah pantai hingga kedalaman 100 meter (Aziz, 2008).

Alga merah biasa menempel pada alga lain atau pada batu. Ada juga yang hidup bebas mengapung dipermukaan air. Alga merah biasa ditemukan di air cukup dalam, lebih dalam dibanding tempat tumbuh kelompok alga lainnya. Fikobilin, pigmen pada alga merah, dapat mengumpulkan cahaya hijau dan biru yang masuk ke air yang dalam. Dengan begit alga merah dapat berada di lokasi perairan yang lebih dalam dibanding alga lainnya (Pitriana, 2008).

Bentuk alga merah seperti rumput sehingga sering disebut sebagai rumput laut (seaweed). Tubuhnya bersel banyak dan kebanyakan berbentuk lembaran sederhana dengan cabang-cabang halus seperti pita. Di dalam selnya terdapat pigmen klorofil a dan fikobilin. Fikobilin adalah semacam pigmen yang terdapat pada fikoeritrin dan fikosianin. Melalui pigmen fikobilin, gelombang cahaya yang masuk ke dalam laut diserap. Kemudian mentransfer energi cahaya ke klorofil untuk keperluan fotosintesis. Bentuk dari hasil fotosintesis adalah karbohidrat yang disebut tepung floridean (Aziz, 2008).

Alga merah dapat bereproduksi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembentukan spora yang tidak memiliki alat gerak. Spora tersebut dapat berindah ke tempat lain dengan mengikuti arus air laut. Selanjutnya, di tempat yang sesuai, spora tersebut akan tumbuh menjadi individu baru. Reproduksi generatifnya dilakukan dengan cara peleburan ovum dengan spermatogonium yang tidak memiliki alat gerak. Hasil peleburan tersebut akan membentuk zigot yang diploid. Selanjutnya zigot akan tumbuh menjadi individu baru yang diploid (Aziz, 2008).

Contoh alga merah adalah Euchemma spinosum, Gilidium, Rhodymenia, dan Scinata. Eucemma spinosum merupakan penghasil agar-agar di daerah dingin. Beberapa famili Corraline memiliki dinding sel berkalsium karbonat. Alga ini ikut membentuk fosil (Pitriana, 2008).

    1. Peranan Alga

Menurut Sheehan dkk (1998) dari departemen energi Amerika Serikat, ada 3 komponen zat utama yang terkandung dalam alga, yaitu (1) Karbohidrat, (2) protein, dan (3) Triacyglycerols. Karbohidrat dapat difermentasikan menjadi alkohol, protein dapat diolah menjadi  produk makanan dan kecantikan, dan Triacyglycerols dapat diubah fatty acid. Kombinasi dari pemanfaatan 3 komponen diatas dapat menghasilkan makanan ternak.

Fatty acid merupakan produk dari alga yang berupa minyak nabati. Alga mengandung minyak nabati yang sangat besar. Menurut Briggs (2004), alga mengandung minyak lebih dari 50 % beratnya. Salah satu jenis alga yang diteliti oleh Sheehan dkk (1998) kandungan minyaknya bahkan dapat mencapai lebih dari 50 %. Minyak nabati dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel.

Alga dapat diproduksi menjadi makanan yang dikonsumsi manusia, makanan ternak, dan pupuk. Alga sangat besar perananya dalam biogeochemistry, yaitu sebagai bagian penting dari siklus N (nitrogen), O (oksigen), S (Belerang), P (phosphate), dan C (karbon). Alga memainkan peranan penting dalam bioteknologi, seperti menyerap polusi dan pencemaran yang berlebihan (Graham dan Wilcox, 2000). Alga juga dapat dimanfaatkan pada bidang farmasi sebagai bahan pembuatan obat-obatan (Cohen, 1999), seperti adanya kandungan zat anti HIV dan anti Herves (Catie, 1998).

Selain itu alga juga dapat diproses menjadi menjadi minyak nabati, yang selanjutnya diproses menjadi biodiesel. Setelah diambil minyaknya, sisa ekstraksinya yang berupa karbohidrat dapat difermentasikan menjadi alkohol, baik dalam bentuk methanol maupun ethanol (Sheehan, 1998).

Alga sangat bermanfaat bagi ekosistem. Di ekosistem, alga berperan sebagai produsen. Alga menyediakan makanan bagi ikan, katak, hingga manusia. Alga juga menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh kita (Pitriana, 2008).

Salah satu manfaat alga adalah sebagai bahan makanan. Rumput laut merupakan bahan makanan penting bagi manusia. Rumput laut biasa diolah menjadi agar-agar atau dikeringkan. Selain lezat, rumput laut bermanfaat bagi kesehatan karena tinggi serat dan mengandung vitamin A, B1, B2, B6, niasin, serta vitamin C. Rumput laut juga kaya akan kandungan yodium, potasium, besi, magnesium, dan kalsium (Pitriana, 2008).

Alga coklat, terutama Srgassum, menghasilkn alginat yang bersifat kental dan tidak beracun. Alginat berfungsi pengemulsi, penyetabil, dan bahan pengikat produk kapsul, produk kosmetik, dan produk makanan (seperti es krim). Oleh karena itu Sargassum merupakan jenis alga yang umum dimanfaatkan dalam industri kosmetik, makanan, dan farmasi (Pitriana, 2008).

Selain bermanfaat bagi ekosistem, alga juga mempunyai kerugian bagi ekosistem, Blooming algae atau ledakan alga biasa terjadi di wilayah perairan seperti kolam, danau, dan laut. Beberapa kasus ledakan alga disebabkan masuknya pupuk, terutama yang mengandung fosfor dan nitrogen, kedalam perairan. Pupuk menyebabkan alga tumbuh terlalu subur. Semakin banyak alga yang tumbuh di perairan, jumlah kematian alga di wilayah itupun menjadi semakin tinggi. materi organik dari alga mati merupakan makanan bagi bakteri. Dengan demikian,ketika semakin semakin banyak materi organik dari alga yang sudah mati, semakin meningkat pula jumlah bakteri pada area tersebut. Aktivitas bakteri ketika mendekomposisi materi organik banyak meggunakan oksigen terlarut. Akibatnya jumlah oksigen terlarut di air menurun. Kurangnya oksigen terlarut akn menyebabkan kematian pada ikan dan organisme air lainnya. Ledakan alga juga dapat berbahaya jika alga memproduksi neurotoksin, racun yang mempengaruhi saraf. Racun ini berbahaya bagi penghuni perairan (Pitriana, 2008).

Budidaya alga dapat dioptimalkan menggunakan sistem terpadu. Pada sistem ini alga dikembangkan dan dibudidayakan berdekatan dengan power plant (pembangkit tenaga). Panas dan sisa pembakaran dari power plant yang mengandung karbondioksida disalurkan ke tempat pengeringan alga yang sudah dipanen, kemudian dialirkan ke tempat pembudidayaan alga (Sheehan dkk, 1998).

Pengoptimalan alga juga dapat dilakukan pada pengolahan pasca panen. Seperti yang telah dijelaskan, alga mempunyai tiga komponen biomasa utama, yaitu karbohidrat, protein, dan minyak nabati. Karbohidrat dapat difermentasikan menjadi alkohol. Protein dapat diolah menjadi  produk makanan dan kecantikan. Minyak nabati dapat digunakan untuk memproduksi bermacam-macam produk, salah satunya adalah biodiesel (Sheehan dkk, 1998).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 18 mei 2009 jam 15.00 – 16.30 WIB di Laboratorium Pendidiukan Biologi A Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

  1. Mikroskop 1 buah
  2. kaca preparat 4 buah
  3. penutup preparat 4 buah
  4. beaker glass 1 buah
  5. pipet tetes 1 buah

3. 2. 2 Bahan

  1. Air kolam Cangar 4 stasiun

3.3.3Cara Kerja

Adapun cara kerja yang digunakan dalam praktikum ini adalah:

    1. Dituangkan air kolam ke dalam beaker glass yang telah di bagi menjadi empat stasiun.
    2. Diambil dengan pipet tetes dan ditetesakan ke kaca preparat, di tutup dan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10×10 secara bergantian dari empat stasiun tersebut.
    3. Digambar spesies tersebut jika sudah ditemukan.
    1. BAB IV

      HASIL DAN PEMBAHASAN

      4. 1 Hasi Pengamatan

      4.1 1 Hasil pengamatan Stasiun 1

        1. Gambar Pengamatan
        1. Gambar Literatur
        1. Euglena
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Ulhotrix
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Oscilatoria
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Chorococus
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Navicula Sp
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Cholodhopora
        1. (Anoymous, 2009)

      4.1.2 Hasil Pengamatan stasiun 2

        1. Gambar Pengamatan
        1. Gambar Literatur
        1. Navicula sp
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Ulothotric
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Euglena
        1. (Anonymous, 2009)

      4.1. 3 Hasil Pengamatan Stasiun 3

        1. Gambar Pengamatan
        1. Gambar Literatur
        1. Frustulia
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Syendra
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Fragilaria
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Volvox
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Gyrosigma
        1. (Anonymous, 2009)

      4.1 4. Hasil Pengamatan stasiun 4

        1. Gambar Pengamatan
        1. Gambar Literatur
        1. Clorella
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Oscilatorioa
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Navicula Sp
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Spirulina
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Frustulia
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Syendra
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Cycoltela
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Melosira
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Stigonema
        1. (Anoymous, 2009)

        1. Chorococus
        1. (Anonymous, 2009)

        1. Amphipluera
        1. (Anonymous, 2009)

      4.2 Pembahasan

      4.2.1 Euglenophyta

      4.2.1.1 Euglena sp

      Devisi Euglenophyta

      Clasis Euglenophyceae

      Ordo Euglenales

      Familia Euglenaceae

      Genus Euglena

      Spesies Eugelana Sp

Habitat di air tawar tetapi ada beberapa yang hidup di air laut terutama di tempat yang mengandung bahan organik. Susunan tubuh pada kelompok ini adalah sel tunggal, tetapi ada beberapa spesies yang berbentuk koloni (Sulisetiono, 2009).

Plastida ada yang berpigmen tersusun banyak dan berbentuk cakram yang mengadug pirenoid. Pigmen terdiri atas klorofil a dan b, β karoten. Cadangan makanan disebut paramilun dalam bentuk butir yang tersebar diantara plastida. Alat gerak utama adalah flagel bertipe tinsel (Sulisetiono, 2009).

Reproduksi hanya dengan satu cara yaitu pembelahan sel biner logitudial. Pada keadaan yang tidak mengutungkan hidup secara vegatatif dengan membentuk sista (Sulisetiono, 2009).

4.2.2 Chlorophyta

4.2.2.1 Ulothrix Sp

    1. Devisi Chlorophyta

      Clasis Chlorophyceae

      Ordo Chlorophyales

      Familia Ulothorichaceae

      Genus Ulothrix

      Spesies Ulothrix Sp

Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal, pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut (Sulisetijono, 2009).

Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas. Kloroplas pada Ulotrix letaknya mengikuti bentuk dinding sel (parietal) dan bentuk kloroplasnya berbentuk sabuk. Susunan tubuhnya filamen tidak bercabang (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi Chlorophyta dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir dengan dua sampai empat bulu cambuk, mempunyai vakuola kontraktil dan kebanyakan memiliki satu stigma. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan konjugasi (Aziz, 2008).

4.2.2.2 Chladhophora slomerata

    1. Devisi Chlorophyta

      Clasis Chlorophyceae

      Ordo Chlorophyales

      Familia Chlodhorales

      Genus Chlodhopora

Spesies Chladhophora slomerata

Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal, pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut (Sulisetijono, 2009).

Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas.Bentuk kloroplasnya berbentuk mangkok. Susunan tubuhnya filamen bercabang (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi Chlorophyta dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir dengan dua sampai empat bulu cambuk, mempunyai vakuola kontraktil dan kebanyakan memiliki satu stigma. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan konjugasi (Aziz, 2008).

4.2.2.3 Volvox

    1. Devisi Chlorophyta

      Clasis Chlorophyceae

      Ordo Volvoales

      Familia Volvoceae

      Genus Volvox

      Spesies Volvox areus

Alga ini hidupnya berkoloni senobium yang terdiri atas satu lapis sel. Sel-sel vegetatif dari senobium berflagel dua dan terbenam dalam lendir. Tiap sel dalam senobium dihubungkan melalui benang-benang sitoplasma yang halus (plasmodesmata) (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi secara akseksual sel gonidia membelah berulang-ulang membentuk sel anakan. Senobium terletak menggatung di dalam koloni induk. Koloni senobium dengan adanya invaginnasi (pembalikan) melalui bagian porus. Protoplasma memperoleh membran sel dan flagel, kemudian koloni anakan dikeluarkan dari induknya. Secara seksual sel akan membentuk antheroid di dalam anteridium. Sel berbentuk seperti kumparan dan flagel tipe isokon. Sel dalam oogonia membesar dan kehilangan hubungan dengan protoplasma. Protoplasma menjadi bulat dan terbentuk oosper. Oogonium masak dan terjadi fertilisasi, antherezoid menembus koloni betina masuk ke dalam sel telur bagia dalam. Zigot yang terbentuk tidak langsung berkecambah tetapi mengalami waktu istirahat terlebih dahulu (Sulisetijono, 2009).

4.2.2.4 Chlorella pyronida

    1. Devisi Chlorophyta

      Clasis Chlorophyceae

      Ordo Chlorococeates

      Familia Oocytaceae

      Genus Chlorella

      Spesies Cholorella pyronida

Alga hijau sebagian besar hidup di air tawar, beberapa diantaranya di air laut dan air payau. Alga hijau yang hidup di laut tumbuh di sepanjang perairan yang dangkal, pada umumnya melekat pada batuan dan seringkali muncul apabila air menjadi surut (Sulisetijono, 2009).

Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas.Bentuk kloroplasnya berbentuk mangkok. Susunan tubuhnya filamen sel tunggal dan non motil (Sulisetijono, 2009).

Reproduksi Chlorophyta dapat terjadi secara seksual dan aseksual. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora, yaitu spora yang dapat bergerak atau berpindah tempat. Zoospora berbentuk seperti buah pir dengan dua sampai empat bulu cambuk, mempunyai vakuola kontraktil dan kebanyakan memiliki satu stigma. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan autospora (Aziz, 2008).

4.2.2.5 Stigonema

    1. Devisi Chlorophyta

      Clasis Chlorophyceae

      Ordo Stigonemales

      Familia Stigonemaceae

      Genus Stigonema

      Spesies Stigonema sp

Chlorophyta hidup sebagai plankton. Plankton adalah organisme kecil yang hidup melayang-layang dalam air yang dapat menjadi sumber makanan bagi hewan air dan ikan. Chlorophyta juga ada yang melekat pada tanah yang basah, tembok yang lembab, pada batang tumbuhan lain, dan ada yang hidup melekat pada tubuh hewan (Aziz, 2008).

Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas.Bentuk kloroplas pada Chlorophyta bernacam-macam. Misalnya pada Chlamidomas berbentuk mangkuk, Spioigyra berbentuk spiral, dan Chlorella berbentuk bulat. Tubuh Chlorophyta ada yang uniseluler, multiseluler, koloni, dan filamen. Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora. Rerpoduksi secara seksual dega kojugasi.

    4.2.3 Cyanophyta

    4.2.3.1 Spirulina Sp

      1. Devisi Cyanophyta

        Clasis Myxophyceae

        Ordo Cyanophyales

        Familia Spirulinaceae

        Genus Spirulina

    Spesies Spirulina Sp

    Ganggang biru ditemukan di aneka macam habitat seperti sungai, kolam, atau danau mulai dari suhu rendah sampai tinggi. Ganggang biru dapat tumbuh dengan cepat sehingga menutupi perairan, hal ini disebut water bloom. Water bloom dapat mengganggu kehidupan tumbuhan dan hewan yang hidup di bawah permukaan air (Sulisetiono, 2009).

    Pada spirulina filamen tidak terlihat sekat-sekat. Filamen menggulung secara teratur membentuk struktur spiral. Reproduksi seksual tidak ditemukan pada Cyanophyta, ganggang ini berkembangbiak secara vegetatif yaitu pembelahan sel dan fragmentasi, dan sporik yaitu akinet, endospora, ektospora dan nanospora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.3.2 Oscillatoria

      1. Devisi Cyanophyta

        Clasis Myxophyceae

        Ordo Cyanophyales

        Familia cyanophyaceae

        Genus Oscilatoria

        Spesies Oscilatoria

    Ganggang biru ditemukan di aneka macam habitat seperti sungai, kolam, atau danau mulai dari suhu rendah sampai tinggi. Ganggang biru dapat tumbuh dengan cepat sehingga menutupi perairan, hal ini disebut water bloom. Water bloom dapat mengganggu kehidupan tumbuhan dan hewan yang hidup di bawah permukaan air (Sulisetiono, 2009).

    Filamen ganggang ini mungkin sendiri atau tumpang tindih dengan filamen yang lain yang membentuk suatu lapisan yang luas. Setiap individu trichome tidak bercabang, berbentuk silindris, ada yang terselubung ada yang tidak Reproduksi seksual tidak ditemukan pada Cyanophyta, ganggang ini berkembangbiak secara vegetatif yaitu pembelahan sel dan fragmentasi, dan sporik yaitu akinet, endospora, ektospora dan nanospora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.3.3 Chrococcus turgidus

      1. Devisi Chynaphyta

        Clasis Myxophyceae

        Ordo Cyanophyceales

        Familia Cyanophyceae

        Genus Chorococus

        Spesies Chorococus tutgidus

    Sel-sel berbentuk bola. Setelah membelah sel berbentuk seperti separo bola untuk beberapa saat. Sel-sel diselubungi oleh satu atau beberapa lapis selubung hialin. Sel-sel bergabung membentuk koloni. Isi sel homogen. Reproduksi dengan pembelahan sel dan fragmentasi koloni (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4 Chrysophyta

    4.2.4.1 Navicula sp

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariophcyeae

        Ordo Penales

        Familia Naviculaceae

        Genus Navicula

        Spesies Navicula Sp

    Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

      1. 4.2.4.2 Synendra sp

        Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Pennales

        Familia Syendraceae

        Genus Syendra

        Spesies Syendra Sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.3 Fragilaria sp

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Pennales

        Familia Fragilariaceae

        Genus Fragilaria

    Spesies Fragilaria Sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.4 Cyclotella sp

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Centrales

        Familia Cyclotellaceae Genus Cyclotella

        Spesies Cyclotella sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar cetrik atau bulat. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.5 Frustulia

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Pennales

        Familia Frustuliaceae

        Genus Frustulia

    Spesies Frustulia Sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.6 Gyrosigma

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Pennales

        Familia Gyrosigmaceae

        Genus Gyrosigma

    Spesies Gyrosigma Sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.7 Melasira

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Xzthophyceae

        Ordo Pennales

        Familia Melasiraceae

        Genus Melasira

    Spesies Melasira Sp

    Hidup bebas berperan sebagai fitoplakton pada kolam atau danau air tawar dan jarang ditemukan di laut. Susunan tubuh filament bercabang, dindingnya disusun oleh unit berbentuk H yang overlap dibagian tengah sel. Susunan ini akan menjadi jelas ketika filament terpisah setelah mati atau patah. Reproduksi dengan melepaskan dan menyebarkan zoospore atau protoplas amoboid (Sulisetiono, 2009).

    4.2.4.6 Amphipluera

      1. Devisi Chrysophyta

        Clasis Bacillariphyceae

        Ordo Pennales

        Familia Amphiplueraceae

        Genus Amphipluera

    Spesies Amphipluera Sp

    Hidup diperairan laut maupun tawar. Mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora: hijau kekuningan sampai coklat keemasan. Hal ini disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan. Susunan tubuh uniseluler dengan bentuk dasar bilateral simitris. Reproduksi secara aseksual dengan pembelahan sel dan pembentukan auxuspora (Sulisetiono, 2009).

    BAB V

    PENUTUP

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat disimpulkan sebagai berikut

    1. Chlorophyta merupakan kelompok alga yang paling banyak ditemukan di air tawar, hanya sebagian kecil yang hidup di laut. Chlorophyta mempunyai pigmen hijau yang dominan dan terhimpun dalam kloroplas.Reproduksi aseksual terjadi dengan pembentukan zoospora. Reproduksi seksualnya berlangsung dengan konjugasi.
    2. Euglenophyta susunan tubuh dibatasi oleh pelikel atau periplas yang merupakan membrane plasma yang menebal. Pigmen terdiri atas klorofil a dan b, β karoten.Reproduksi hanya dengan satu cara yaitu pembelahan sel biner logitudial
    3. Chrysophyta mempunyai pigmen yang terletak dalam kromatofora hijau kekuningan sampai coklat keemasan yang disebabkan oleh karoten dan xantofil yang predominan.. Susunan sel soliter atau koloni, ada yang berflagel dan ada yang tidak berflagel. Reproduksi aseksual menggunakan spora berflagel.
    4. Cyanophyta yang ditemukan di aneka macam habitat seperti sungai, kolam, atau danau mulai dari suhu rendah sampai tinggi. Mempunyai 3 bentuk talus ganggang biru yaitu sel tunggal, koloni, dan filament. Warna biru disebabkan oleh pigmen phycocianin. Reproduksi secara vegetatif dengan pembelahan sel dan fragmentasi.
    5. Jenis alga yang banyak ditemukan adalah dari phylum Chrysophyta
    6. Alga sangat bermanfaat bagi ekosistem. Di ekosistem, alga berperan sebagai produsen. Alga menyediakan makanan bagi ikan, katak, hingga manusia. Alga juga menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh kita, dapat digunakan sebagai bahan makanan dapat digunakan sebagai kosmetik. Alga juga dapat dimafaatkan sebagai bahan baku biodisel. Alga juga dapat dimanfaatkan pada bidang farmasi sebagai bahan pembuatan obat-obatan.

    DAFTAR PUSTAKA

    Aziz, Abdul. 2008. Dan Alampun Bertasbih. Jakarta: Balai Pustaka.

    Briggs,M.2004.WidescaleBiodieselProductionfromAlgae.http://www.unh.edu/p2/biodiesel/article_algae.html. Diakses 22 Juni 2009.

    Campbell, N.A, J.B.Reece & L.G. Mitchell. 2002. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.

    Catie.1998.SariGangganguntukHIVdanHerves?.http://www.rad.net.id/aids/WARTA/WA02609.htm.  Diakses 22 Juni 2009.

    Cohen, Zvi .1999.Chemicals from Microalgae Tylor & Francis Ltd. Diakses 22 Juni 2009

    Graham, LE., Wilcox, Lw. 2000. Algae. Prentice-Hall.USA.

    Pitriana, Pipit. 2008. Bio Ekspo Menjelajah Dunia Dengan Biologi. Solo: Jatra Graphic.

    Sheehan, J., Dunahay, T., Benemann, J., Roessler, P.1998. A look Back at The U.S. Department of Energy’s Aquatic Species Program : Biodiesel from Algae. Colorado.USA.

    Sulisetijono, 2009. Bahan Serahan Alga. Malang: UIN Press.

      1. Sunandi, Maino. 2000. Analisis Pigmen Alga. Riau: UIN Press

      LAMPIRAN

      .

      1. Alga Biru
        1. Chrococus, Oscilatoria, Spirullina, dan Stigonema
        2. Selaput pembungkus tubuh pada umumnya adalah bening, selaput ini seperti gelatin (glukosa), terdiri dari benang-benang selulosa tetapi ada juga selaput yang berwarna coklat, merah atau violet.
        3. Tidak, berbentuk filament
        4. Selubung pembungkus dalam satu tingkatan berupa hilum (selubung bening)
        5. Bentuk filamennya bercabang
        6. Ada tapi tidak tampak jelas
        7. Iya, gerakannya ada yang lambat dan ada yang bergerak dengan cepat.
        8. Tidak berbentuk spora
        9. Saling terjalin membentuk koloni

      B. Euglena

          1. .Bentuk susunan tubuhnya adalah sel tunggal. Bangun ruangnya lonjong dengan flagel yang terletak pada anterior
          2. Iya, susunan tubuhnya di batasi oleh pelikel yang merupakan membbran plasma yang menebal. Pada perikel juga digunakan alat gerak, gerak perikel disebut juga euglenoid.
          3. Iya
          4. Euglena bergerak dengan flagel dan gerakkannya melucur
          5. Isi dari sel adalah mengandung inti tunggal, plastida ada yang berpigmen bersusun banyak dan bentuk cakram, dan mengandung pirenoid.
          6. Ada, kurang lebih 3
          7. Euglinophyta memiliki pigmen yang terdiri atas klorofil, a, b, dan β karoten
          8. Euglinophyta disebut zooplankton karena euglena hidup pada tempat yang banyak mengandung bahan organic dan hidup bebas

      C. Alga Hijau

      1. Tunggal : Ulothrix, Clamydomonas

      Koloni : Chorella

      Filamen : Chladophora, Spirogyra

      2. Bangun sel kokus dan tidak berupa koloni

      3. Tidak terdapat senobium pada Chlorophyta

      4. Ulothrix bergerak lambat, tidak mempunnyai alat yang membantu untuk berjalan, tidak mempunyai stigma dan berbentuk filament.

      5.Bentuk filamen dan tidak bercabang

      6. Iya, pada Clamydomonas bergerak cepat karena di dukung oleh adanya flagel, alat geraknya berupa flagel, susunan tubuhnya uniseluler da terdapat stigma. Pada Chlorella tidak bergerak karena tidak mempunyai alat gerak sebagai lokomofor,susunan tubuhnya berkoloni dan tidak mempunyai stigma. Pada euglena bergerak euglenoid, mempunyai alat gerak berupa flagel, susunan tubuh sel tunggal dan berkoloni dan terdapat stigma

      7. Iya, terlihat membentuk koloni sehingga terlihat semu

      8. Ada, pada Clamydomonas dan Chlorella jumlahnya banyak sehingga terlihat semu

      10. Pada Chladophora ruas tersusun atas bannyak sel dari sela buku terdapat cabang filament lagi. Pada Ulothrix ruas tersusun atas banyak sel tetapi tidak bercabang. Pada Chlorella banyak sel da tidak bercabang pada tubuhnya, tunggal tetapi berkoloni.

      11.Clamydomonas secara aseksual dengan pembelahan sel, secara seksual dengan isogami. Pada Chlorella dengan cara autospora. Pada Ulothrix secara seksual dengan zoospore. Pada Chladophora seksual dengan cara zoogamet, aseksual dengan cara fragmetasi. Pada Chrococus dengan cara emdospora dan pembelahan sel.

        upacara kasada

        BAB I <!– @page { size: 21cm 29.7cm; margin: 2cm } P { margin-bottom: 0.21cm } –>

        BAB I

        PENDAHULUAN

        1.1 Latar belakang

        Daerah Tengger adalah daerah bergunung-gunung terletak di propinsi Jawa Timur dan termasuk empat kabupaten, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang. Salah satu gunungnya adalah Gunung Bromo memang masih aktif dan gunung paling penting untuk sistem kepercayaan Masyarakat Tengger. Gunung Bromo bukan gunung berapi yang paling tinggi dari lima gunungnya, hanya 2392 m di atas permukaan laut tetapi bentuk ditengahnya kosmologi manusia Tengger.

        Sejak Jaman Majapahit konon wilayah yang mereka huni adalah tempat suci, karena mereka dianggap abdi – abdi kerajaan Majapahit. Sampai saat ini mereka masih menganut agama hindu, Setahun sekali masyarakat tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada. Upacara ini berlokasi disebuah pura yang berada dibawah kaki gunung bromo. Dan setelah itu dilanjutkan kepuncak gunung Bromo. Upacara dilakukan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama dibulan Kasodo menurut penanggalan Jawa.

        1.2 Rumusan Masalah

        1. Apa saja adapt-adat upacara yang ada di Tengger?
        2. Apa tujuan dilaksanakan upacara kasada?
        3. Kapan upacara kasada dilaksanakan?

        1.3 Tujuan

        1. Untuk mengetahui budaya yang ada di Tengger
        2. Untuk mengetahui tujuan dilaksanakan upacara kasada
        3. Untuk mengetahui upacara kasada dilaksanakan

        BAB II

        PEMBAHASAN

        2.1 Daerah Tengger

        Daerah Tengger adalah daerah bergunung-gunung terlatak di propinsi Jawa Timur dan termasuk empat kabupaten, yaitu Pasuruan, Probolinggo, Malang dan Lumajang. Daerahnya terletak 40 Km ke timur dari Malang dan 50 Km ke selatan dari pelabuhan Probolinggo dan Pasuruan. Gunung Bromo memang masih aktif dan gunung paling penting untuk sistem kepercayaan Masyarakat Tengger. Gunung Bromo tidak gunung berapi yang paling tinggi dari lima gunungnya, hanya 2392 m di atas permukaan laut tetapi bentuk ditengahnya kosmologi manusia Tengger.

        2.2 Masyarakat di Tengger

        Rakyat Tengger adalah orang petani yang tinggal dikeliling daerah bergunung-gunung dan termasuk Gunung Mahameru dan Bromo. Walaupun orang Tengger beragama Hindu, mereka tidak dapat dianggap sebagai kelompok etnis berbeda dari orang Jawa yang lain. Mereka adalah orang Hindu tetapi tidak melakukan pembakaran mayat seperti orang Hindu di Bali. Selanjutnya upacara perkawinan Tengger adalah sama dengan orang yang lain di Jawa dan pula orang Tengger memakai bahasa yang sama, yaitu bahasa Jawa Ngoko. Walaupun ada persamaan diantara orang Tengger dan orang Jawa yang lain, mereka masih punya kepercayaan dan kebudayaan berbeda. Orang Tengger punya keduanya kepercayaan animisme tentang lingkungannya serta kepercayaan Hindu. Dukun Tengger berbeda dari dukun Jawa yang lain, mereka mempunyai tujuan menjaga kebudayaan dan melakukan upacara-upacara tradisionil. Dalam setiap desa Tengger ada dukun di atas mereka ada satu dukun yang mengurus semua bernama Lurah Dukun. Walaupun agama orang Tengger masih kuat, saat ini dalam desa-desa Tengger juga ada penduduk beragama Islam dan Kristen.

                         

        Artinya Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan RasulNya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Tidak menepati perjanjian) (QS.At-Tubat:8).

        Tengger daerahnya dikurangi oleh orang pendatang beragama Islam dari daerah yang lain di Jawa. Sampai tengah abad 19 kebanyakan desa-desa Tengger lebih rendah dari 1400 m dikuasai oleh pendatang  beragama Islam. Sampai waktu pendatangnya tidak maju lebih dari 1400 m karena dua hal. Hal yang pertama adalah kepadatan penduduknya di atas garis 1400 m sudah lebih tinggi dari pada daerah lebih rendah. Hal yang kedua adalah bahwa panen kopi yang dimasuki oleh orang Belanda, tidak bisa ditanam di daerah lebih tinggi dari 1200 .Saat ini keadaan di desa-desa Tengger adalah berbeda sejak jalan dibangun sampai desa Tengger yang terpencil. Misalnya baru sepuluh tahun ada jalan sampai desa Ranu Pani dan sekarang ada masyarakat beragama Islam dan Kristen yang tinggal bersama orang asli Tengger. Selanjutnya setiap tahun ada ribuan orang wisata yang datang ke daerah Tengger. Walaupun pengaruh dari luar kebudayan Tengger pada tahun-tahun baru agama Hindu mengalami kebangkitan dengan orang Tengger dan pura baru dibangun di kaki Gunung Bromo pada tahun 1992.  Sebagai pemeluk agama Hindu Suku Tengger tidak seperti pemeluk agama Hindu pada umumnya, memiliki candi-candi sebagai tempat peribadatan, namun bila melakukan peribadatan bertempat dipunden,danyang dan poten.Poten merupakan sebidang lahan di lautan pasir sebagai tempat berlangsungnya upacara Kasada. Sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat Tengger yang beragama Hindu, poten terdiri dari beberapa bangunan yang ditata dalam suatu susunan komposisi di pekarangan yang dibagi menjadi tiga Mandalaatauzone,yaitu:
        1. Mandala utama disebut juga jeroan yaitu tempat pelaksanaan pemujaan persembahyangan yang terdiri dari Padma berfungsi sebagai bentuknya serupa candi yang dikembangkan lengkap dengan pepalihan. Fungsi utamanya tempat pemujaan Tuhan Yang Maha Esa, Padma tidak memakai atap yang terdiri dari bagian kaki yang disebut tepas, badan/batur dan kepala yang disebut sari dilengkapi dengan Bedawang, Nala,GarudadanAngsa.Bedawang Nalame lukiskan kura-kura raksasa mendukung padmasana, dibelit oleh seekor atau dua ekor naga, garuda dan angsa posisi terbang di belakang badan padma yang masing-masing menurut mitologi melukiskan keagungan bentuk dan fungsi padmasana.Bangunan Sekepat (tiang empat) atau yang lebih besar letaknya di bagian sisi sehadapan dengan bangunan pemujaan/padmasana, menghadap ke timur atau sesuai dengan orientasi bangunan pemujaan dan terbuka keempat sisinya. Fungsinya untuk penyajian sarana upacara atau aktivitas serangkaian upacara. Bale Pawedan serta tempat dukun sewaktu melakukan pemujaan.

        2. Mandala madya atau zone Tengah disebut juga jaba tengah, tempat persiapan dan pengiring upacara terdiri dari Kori Agung Candi Bentar, bentuknya serupa dengan tugu, kepalanya memakai gelung mahkota segi empat atau segi banyak bertingkat-tingkat mengecil ke atas dengan bangunan bujur sangkar, segi empat atau segi banyak dengan sisi-sisi sekitar satu depa alit, depa madya, depa agung.Bale Kentongan, disebut bale kul-kul letaknya di sudut depan pekarangan pura, bentuknya susunan tepas, batur, sari dan atap penutup ruangan kul-kul/kentongan. Fungsinya untuk tempat kul-kul yang dibunyikan awal, akhir dan saat tertentu dari rangkaian upacara. Bale Bengong, disebut juga Pewarengan suci letaknya diantara jaba tengah/mandala madya, mandala nista/jaba sisi. Bentuk bangunannya empat persegi atau memanjang deretan tiang dua-dua atau banyak luas bangunan untuk dapur. Fungsinya untuk mempersiapkan keperluan sajian upacara yang perlu dipersiapkan di pura yang umumnya jauh dari desa tempat pemukiman.

        1. Mandala nista atau zone Depan disebut juga jaba sisi yaitu tempat peralihan dari luar ke dalam pura yang terdiri dari bangunan candi bentar/bangunan penunjang lainnya. Pekarangan pura dibatasi oleh tembok penyengker batas pekarangan pintu masuk di depan atau di jabaan tengah/sisi memakai candi bentar dan pintu masuk ke jeroan utama memakai Kori Agung.tembok penyengker candi bentar dan kori agung ada berbagai bentuk variasi dan kreasinya sesuai dengan keindahan arsitekturnya. Bangunan pura pada umumnya menghadap ke barat, memasuki pura menuju ke arah timur demikian pula pemujaan dan persembahyangan menghadap ke arah timur ke arah terbitnya matahari.Komposisi masa-masa bangunan pura berjajar antara selatan atau selatan-selatan di sisi timur menghadap ke barat dan sebagian di sisi utara menghadap selatan.

        2.3 Gunung Bromo

        Menurut Kosmologi Manusia Tengger Gunung Bromo berbentuk tengah atau perlabuhan untuk sistim kepercayaan rakyat. Pada zaman dulu semua bangunan dan sanggar Tengger dibangun menghadap Gunung Bromo. Dukun akan melakukan selamatan menghadap Gunung Bromo. Waktu orang Tengger yang meninggal dunia dia dikuburkan dengan kepalanya menghadap Gunung Bromo. Walaupun saat ini orang yang meninggal dunia dikuburkan menghadap ke selatan, berbeda dari pada orang yang lain di Jawa. Selanjutnya Dukun melakukan selamatan menghadap Gunung Bromo atau ke selatan. Semua hal di atas bisa dijelaskan oleh kosmologi Tengger pada zaman dulu.

        Nama Gunung Bromo asalnya dari dewa Brama dari agama Hindu. Ahli sejarah percaya bahwa pada kerajaan Majapahit daerah Tengger di pakai sebagai daerah keselamatan dewa Brama. Menurut kosmologi agama Hindu setiap dewa melambangkan arah angin, yaitu Isewara arahnya timur, Brama arahnya selatan, Mahadewa arahnya barat, Visnu arahnya utara dan Siva di tengah .Bagi manusia Tengger kalau Gunung Bromo melambangkan tengah kosmologi manusia tetapi juga dewa Brama adalah dewa arahnya selatan akibatnya Gunung Bromo selalu berada ke selatan. Maka ibu mata angin Tengger selalu diurus oleh Gunung Bromo ke selatan. Pada saat ini sistim ibu mata angin digambarkan di atas tidak lagi digunnakan dan orang Tengger gunnakan sistim sama dengan seluruh pulau Jawa. Akibatnya sekarang ada orang yang pakai arahnya selatan untuk selamatan dan pula ada orang yang pakai arahnya Gunung Bromo.

        2.4 Legenda Upacara Kasada

        Gunung Bromo tidak bisa dipisahkan dari sistim kepercayaan masyarakat Tengger. Legenda Kasada adalah cerita tentang cikal bakal rakyat Tengger dan mengambarkan hubungan di antara manusia dan mahluk halus Gunung Bromo. Dalam legenda Kasada mahluk halus Gunung Bromo tidak punya nama sendiri tetapi dipanggil oleh nama Sang Yang Widi,digambarkan sebagai asal-usulnya dari kerajaan Majapahit sebelum keturunan kerajaan Hindu-Budha di Jawa. Tujuan legenda Kasada adalah bahwa suatu nenek moyang Tengger bernama Dewa Kusuma anak dari Joko Seger dan Rara Angteng mengkorbankan jiwanya untuk keluarganya dan orang Tengger. Akibatnya adalah perjanjian di antara roh leluhur Dewa Kusuma dan orang Tengger untuk memberi sesajian setaip tanggal 14 bulan Kasada dalam ketanggalan Tengger. Upacara sesajian itu bernama Upacara Kasada dan diikuti oleh orang Tengger satu tahun sekali sampai sekarang.

        Joko Seger dan Rara Anteng berasal dari Kerajaan Majapahit. Joko Seger masih keturunan Brahmana dan Dewi Rara Anteng keturunan Bangsawan. Disini dahulu masih berwujud hutan dan tidak seperti sekarang. Karena mereka adalah lain jenis kemudian ingin membentuk sebuah Rumah Tangga dan kemudian melaksanakan perkawinan yang disahkanolehResiDadapPutih.Setelah kawin diangkat sebagai Raja di daerah Tengger. Nama Tengger itu sendiri diambil dari Rara Anteng dan Joko Seger yang setelah itu mendapat julukan Probo Waseso Mangku Rating Tengger. Namun mereka masih belum mempunyai keturunan. Mereka berniat semedi. Waktu Semedi (meditasi) di Watu Kuta memohon kepada Sang Yang Widi untuk mendapatkan keturunan. Kemudian ada terdengar suara Gaib yang kemudian diberi anak sebanyak 25 anak laki-laki dan perempuan namun nantinya akan diambil salah satunya.Tahun demi tahun terkabullah keinginannya dan memiliki anak sebanyak 25, dan yang bungsu bernama Raden Kusuma yang pada usia 10 tahun anak-anak diungsikan (pindah) dari daerah yang jauh dari tempat semedi.

        Tepatnya pada bulan Kasada, bulan Purnama tanggal 14 sekitar subuh tapi orang-orang Tengger biasa mengatakan Putih Wetan. Pada waktu anak-anak bermain tiba-tiba api dari Gunung Bromo menjilat sampai ke tempat anak-anak bermain, setelah api hilang lenyap dan Kusuma dibawa oleh api Gunung Bromo, waktu itu juga saudaranya mencarinya tetapi orang tuanya menyadarinya dari dulu. Setelah saudara-saudaranya dan orangtuanya tiba tepatnya di bawah Gunung Bromo ada suara Kusuma. Kusuma mengatakan bahwa tidak perlu untuk mencari dia karena dia mewakili semua saudara-saudaranya untuk bertemu Sang Yang Widi dan Kusuma berharap saudara-saudaranya diberi kemakmuran dan setiap Kasada bulan Purnama tanggal 14 sekitar Putih Wetan agar di kirim sebagian dari hasil bumi yang ada di Tengger. Jadi untuk Upacara Kasada para Dukun atau Pemuka Agama datang kesana atas permintaan Kusuma itu. Jadi setiap Bulan Purnama upacara Kasada selalu membawa sesaji sebagian.Itulah sebagian garis besar dari nama Tengger dan hari Kasada

        2.5 Pelaksanaan Upacara Kasada

        Upacara Kasada yang di Gunung Bromo dilakukan setiap bulan Kasada (12). Upacara Kasada terdiri dari beberapa urutan atau prosesi yaitu:

        1. Puja purkawa

        2. Manggala upacara

        3. Ngulat umat

        4. Tri sandiya

        5. Muspa

        6. Pembagian bija

        7. Diksa widhi

        8. Penyerahan sesaji di kawah Bromo

        Pada malam ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari berbagai hasil pertanian, ternak dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.

                                        

        Artinya Dan orang-orang yang Telah menempati kota Madinah dan Telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung (QS. Al Hasry:9).

                    

        Artinya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”(QS. Ibrahim:7)

        Jalannya upacara Kasada dimulai dari Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja, yaitu seluruh umat menuju Gunung Bromo untuk melaksanakan korban.Upacara Kasada diawali dengan pengukuhan sesepuh Tengger dan pementasan sendratari Rara Anteng Jaka Seger di panggung terbuka Desa Ngadisari. Kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo. Dukun bagi masyarakat Tengger merupakan pemimpin umat dalam bidang keagamaan, yang biasanya memimpin upacara-upacara ritual perkawinan dll. Sebelum dilantik para dukun harus lulus ujian dengan cara menghafal dan membacakanmantra-mantra. Setelah Upacara selesai, ongkek – ongkek yang berisi sesaji dibawa dari kaki gunung bromo ke atas kawah. Ongket adalah yang diatur sedemikian rupa sehingga menjadi indah dan diisi dengna sesaji yang akan dikorbankan di Puden Cemara Lawang dan kawah Gunung Bromo. Isi dari ongket adalah daun pisang satu bendel, sirih satu ikat, kayu satu batang sebagai alat pikul, pisang satu tandan, jambe satu tandan, kelapa muda, daun mangkuk, dan dihiasi dengan bunga seperti kenikir, mutihan, tanalayu. Dan mereka melemparkan kedalam kawah, sebagai simbol pengorbanan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

        Didalam kawah banyak terdapat pengemis dan penduduk tengger yang tinggal dipedalaman, mereka jauh jauh hari datang ke gunung bromo dan mendirikan tempat tinggal dikawah gunung Bromo dengan harapan mereka mendapatkan sesaji yang dilempar. Penduduk yang melempar sesaji berbagai macam buah buahan dan hasil ternak, mereka menganggapnya sebagai kaul atau terima kasih mereka terhadap tuhan atas hasil ternak dan pertanian yang melimpah. Aktivitas penduduk tengger pedalaman yang berada dikawah gunung bromo dapat kita lihat dari malam sampai siang hari Kasada Bromo.

        Korban yang yang diberikan oleh masyarakat ke kawah Gunung Bromo dan sesaji yang oleh dukun ke punden bertujuan untuk mewujudkan keselamatan masyarakat Tengger. Makna sesaji yaitu Yadnya dibuang ke kawah Gunung Bromo untuk persembahan kepada Dewa Brama agar roh nenek moyang dapat diterima disisi Hyang Widhiwasa. Sesaji yang diberikan ke Cemara Lawang berarti sesaji yang dipersembahkan kepada arwah nenek moyang karena punden dianggap sebagai tempat arwah nenek moyang yang pada waktu-waktu arwah nenek moyang datang ke punden.

        2.6 Masyarakat Non Tengger dan Gunung

        Banyak orang selain orang Tengger ikut upacara Kasada adalah bukti bahwa daerah Tengger punya arti luas untuk manusia Jawa maupun manusia umum. Desa-desa terletak lebih rendah dan keliling daerah  Tengger yaitu orang beragama Islam juga punya kepercayaan tentang Gunung Bromo. Masyarakat desa melakukan selamatan kepada Gunung Bromo sebagai tempat sumber mata air desanya. Pada malam Kasada pula ada upacara yang lain di Goa Widodaren untuk orang desa daerah rendah. Di samping Gunung Bromo ada gunung yang lain, di lereng gunung itu ada Goa Widodaren dan di dalam ada sumber mata air. Sumber mata air itu dipercayai sebagai sumber mata air yang memberi air untuk semua daerah di bawah daerah Tengger. Maka pada malam Kasada itu mereka melakukan selamatan kepada mahluk halus yang ada di Gunung Bromo untuk air yang bersih.

        Selain orang yang tinggal di desa-desa keliling daerahnya juga ada orang beragama Hindu di Bali yang punya kepercayaan tentang Gunung Mahameru. Setiap tahun ribuan orang dari seluruh kepulauan Indonesia naik ke puncak Mahameru. Kebanyak orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau. Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Kalau orang percaya pada hantu atau tidak tetapi banyak orang Jawa yang percaya bahwa daerah Tengger didiami oleh hantu-hantu.

        2.7 Adat-Adat Upacara di Tengger

        Selain upacara Kasada juga ada beberapa upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat yang bertempat tinggal di Tengger yaitu:

        1. Upacara Karo diadakan pada bulan Karo setahun sekali. Upacara ini diadakan untuk mengenang zaman Satya Yoga, dimana zaman waktu manusia jujur (satya) penuh. Upacara Karo terdiri dari sebelas urutan atau prosesi yaitu
          1. Ngumpul maksudnya masyarakat Tengger dikumpulkan musyawarah kapan upacara Karo akan dilaksanakan
          2. Mepek maksudnya agar masyarakat Tengger mencukupi kebutuhan

          3. Tekane ping pitu yaitu suatu tradisi untuk menyambut datangnya roh leluhur

          4. Prepengan adalah kesibukan para ibu untuk menyiapkan makanan yang akan dipergunakan makan dalam perjamuan waktu upacara Karo

          5. Tumpeng bandungan adalah tumpeng yang dibuat oleh tiap kepala keluarga dan dikirim ke tempat upacara Karo atau kepala desa untuk dimakan bersama

          6. Tumpeng ijen adalah tumpeng besar yang dipergunakan untuk seluruh masayarakat Tengger. Tumpeng ini mempunyai lambang dewa Sang Hyang Widiwasa dan sebagai lambang persatuan bagi seluruh masyarakat Tengger

          7. Sodoran adalah suatu tarian asli Tengger yang bersifat ritual. Tarian ini dilakukan oleh beberapa laki-laki yang membawa tongkat
          8. Sesandhing adalah upacara khusus bagi keluarga

          9. Nyandran adalah suatu upacara yang menabur bunga di makam

          10. Sedhekah panggonan adalah upacara yang mempunyai makna agar roh-roh yang belum bersatu dengan Tuhan itu tidak menggangu manusia
          11. Mulihe pinh pitu adalah upacara yang mengandung makna agar roh manusia kembali kehadapan Sang Pencipta

        2. Upacara Unan-Unan yaitu suatu upacara melangkah ke kesempurnaan dengan cara melakukan penghormatan makhluk halus. Upacara unan-unan dipimpin oleh seorang dukun dengan perlengkapan yaitu klasa anyar (tikar baru), nasi sebanyak 100 takir, sirih ayu, pisang ayu, jambe ayu, sate korban sebanyak 100 biji, racikan jumlahnya 100, dan kepala kerbau. Upacara unan-unan memakai mantra japa mantra nasi (reresik),japa mantra air (tuwuhan), dan japa mantra mapah (tutupan).
        3. Upacara   Pujan  Kapat yaitu upacara     selamatan  bumi , air  , kayu dan   segala macam tanaman beserta hasil buminya.Tempat berada di rumah sanggar dan menggunakan mantra pujan  sharon.Masyarakat suku Tengger  membawa  hasil  bumi mereka ke rumah sanggarnya  di masing – masing dusun.
        4. Upacara  Bari’an, upacara Bari’an ini diselenggarakan pada saat setelah terjadi bencana alam, gempa bumi, gerhana atau peristiwa lain yang dapat mempengaruhi kehidupan orang Tengger. Biasanya dilaksanakan lima sampai tujuh hari setelah kejadian atau peristiwa bencana atau peristiwa alam lainnya yang memberikan isyarat atau pertanda buruk. Akan tetapi Upacara Bari’an tersebut tidak dilaksanakan setelah terjadinya peristiwa saja, melainkan Upacara Bari’an juga dilaksanakan sebagai wujud ungkapan terimakasih atau syukur  kepada Tuhan. Dalam upacara bari’an seluruh masyarakat berkumpul dipimpin oleh  kepala desa dan dukun adat.
        5. Upacara  mbobot  /  kelahiran upacara ini merupakan serangkaian enam macam upacara yang saling berkaitan yaitu :upacara  neloni ( usia kandungan  3  bulan ) dan upacara  sayut ( usia kandungan  7 bulan ).Tujuannya adalah agar Ibu yang sedang mengandung serta bayinya mendapatkan keselamatan serta kelancaran apabila kelak akan melahirkan
        6. Upacara  Brokohan yaitu upacara yang diadakan setelah sang bayi lahir dengan selamat demikian juga dengan ibunya biasanya upacara ini dilaksanakan dengan mengundang para tetangga khususnya para ibu – ibu, sedangkan ari – ari atau batur ( teman ) sang bayi dimasukkan kedalam Batok Kelapa ( tempurung ) kemudian disimpan.

        BAB III

        PENUTUP

          1. Kesimpulan

        Adapun kesimpulan dari pembahasan yaitu

        1. Adat-adat upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Tengger yaitu:
        1. Upacara Kasada ialah upacara yang dilakukan oleh masyarakat Tengger pada dilakukan setiap bulan Kasada dan ada beberapa prosesi puja purkawa,manggala upacara, ngulat umat, tri sandiya, muspa, pembagian bija, diksa widhi dan penyerahan sesaji di kawah Bromo. Jalannya upacara Kasada dimulai dari Sadya kala puja dan berakhir sampai Surya puja, yaitu seluruh umat menuju Gunung Bromo untuk melaksanakan korban.
        2. Upacara Karo diadakan pada bulan Karo setahun sekali. Upacara ini diadakan untuk mengenang zaman Satya Yoga, dimana zaman waktu manusia jujur (satya) penuh.
        3. Upacara Unan-Unan yaitu suatu upacara melangkah ke kesempurnaan dengan cara melakukan penghormatan makhluk halus

        4. Upacara   Pujan  Kapat yaitu upacara     selamatan  bumi , air  , kayu dan   segala macam tanaman beserta hasil buminya
        5. Upacara  Bari’an, upacara Bari’an ini diselenggarakan pada saat setelah terjadi bencana alam, gempa bumi, gerhana atau peristiwa lain yang dapat mempengaruhi kehidupan orang Tengger.
        6. Upacara  mbobot  /  kelahiran upacara ini merupakan serangkaian enam macam upacara yang saling berkaitan yaitu :upacara  neloni ( usia kandungan  3  bulan ) dan upacara  sayut ( usia kandungan  7 bulan ).Tujuannya adalah agar Ibu yang sedang mengandung serta bayinya mendapatkan keselamatan serta kelancaran apabila kelak akan melahirkan
        7. Upacara  Brokohan yaitu upacara yang diadakan setelah sang bayi lahir dengan selamat demikian juga dengan ibunya biasanya upacara ini dilaksanakan dengan mengundang para tetangga khususnya para ibu – ibu, sedangkan ari – ari atau batur ( teman ) sang bayi dimasukkan kedalam Batok Kelapa ( tempurung ) kemudian disimpan.

        2. Tujuan dilaksanakan upacara Kasada adalah agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa,

        3. Upacara Kasada yang di Gunung Bromo dilakukan setiap bulan Kasada (12), kemudian tepat pada pukul 24.00 dini hari diadakan pelantikan dukun dan pemberkatan umat di poten lautan pasir Gunung Bromo

        4. Masyarakat di Tengger mayoritas beragama Hindu-Budha tetapi disana juga ada yang beragama islam. Kerukunan antar agama di Tengger menjadi prioritas utama.

        DAFTAR PUSTAKA

        Amin, Darori. 2000. Islam Dan Kebudayaan Jawa. Yogyakarta: Gema Media

        Arifin, Edy Burhan. 1994. Peranan Dukun Dalam Masyarakat Tengger. Laporan Penelitian Univesitas Jember.

        Hefner, Robert. 1985. Masyarakat Tengger Dalam Sejarah Nasional Indonesia. Boston: University Boston

        Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka

        Redfiedl, Roberth. 1982. Masyarakat Petani Dan Kebudayaan. Jakarta:CV Rajawali

        Sudjito. 1984. Struktur Bahasa Jawa Dialek Tengger. Jakarta: Pusat Pembinaan Pengembangan Bahasa Depdikbud

        Supijatun. 1983. Mengenal Sistem Religi Masyarakat Tengger Di Kecamatan Sukapura Di Kabupaten Probolinggo. Laporan Penelitian Universitas Jember

        Klasifikasi

        Kingdom Plantae

        Divisi     Pteridophyta

        Classis   Filicinae

        Ordo      Marattiales

        Family   Polypodiaceae

        Genus   Nephrolepis

        Spesies Nephrolepis cordifolia L

        Habitat

        Nephrolepis dapat ditemukan pada dataran tinggi, daerah kering seperti padang pasir, daerah berair atau area-area terbuka. Selain itu dapat ditemukan 4 tipe habitat Nephrolepis yaitu, hutan rindang yang memiliki celah permukaan berkarang, khususnya yang terlindung dari sinar matahari, terdapat di daerah rawa dan tergenang air, dan tumbuh sebagai epifit pada pohon-pohon tropik. Habitat dari Nephrolepis cardifolia (L) atau yang biasa disebut dengan paku sepat epifit pada batu yang berlumut atau batang yang lembab, dengan kelembaban 28 ° C.Tumbuh pada ketinggian 100 m – 2000 m dari permukaan laut.

        Habitus

        Hampir semua paku-pakuan adalah herba atau agak berkayu. Ada pula yang berupa pohon, misalnya anggota Cyatheaceae. Pada Nephrolepis cardifolia habitusnya herba.

        Akar

        Pada umumnya akar paku-pakuan adalah serabut yang bercabang secara dikotom. Ada pula yang bercabang monopodial atau tidak bercabang. Pada Nephrolepis carfolia L akarnya serabut monopodial yang berwarna kuning kecoklatan.

        Batang

        Semua batang paku-pakuan berupa rimpang karena pada umunya arah tumbuhnya menjalar atau memanjat. Pada Nephrolepis cardifolia L bentuk batangnya bulat beralur dan berusuk secara longitudinal, beruas-ruas panjang dan kaku, permukaanya licin dan warnanya merah kecoklatan.

        Daun

        Daun Nephrolepis cardifolia L termasuk daun majemuk, menyirip genap, tangkai berbulu, ujung dan pangkal tumpul, Ukuran daun isofil, yaitu daun-daun yang mempunyai ukuran sama atau serupa dengan panjang 2-5 cm, lebar 0.5-1 cm, tepi bergerigi halus, permukaan kasar, warna hijau dan ciri khususnya mempunyai vernasi bergelung yaitu daun mudanya bergelung yang akan membuka bila dewasa, akibat lebih lambatnya pertumbuhan permukaan daun atas daripada permukaan bawah pada perkembangan awalnya.

        Spora

        Perkembangbiakan generatif pada Nephrolepis cardifolia L dilakukan dengan spora yang terletak pada sisi bawah daun pada tanaman yang sudah dewasa. Kumpulan sporangium disebut sorus. Sorus terdapat disepanjang tepi, berwarna coklat, letak teratur, dan bentuknya bulat. Sorus muda sering dilindungi oleh selaput indusium yaitu membran penutup yang merupakan perkembangan dari epidermis bawah daun. Pada Nephrolepis cardifolia L ini tidak terdapat sporanya karena tumbuhan ini masih muda.

        Manfaat

        Pada Nephrolepis cardifolia L seluruh bagian dari tumbuhan ini dapat digunakan sebagai obat demam, infeksi saluran kemih, dan juga sebagai tanaman hias.

        • Obat demam

        15 gram akar paku sepat segar, dicuci, direbus dengan 200 ml air sampai mendidih selama 5menit, disaring, diminum setelah dingin, dilakukan 2-3 kali.

        Siklus Hidup

        Reproduksi generatif melalui pembentukan spermatozoid (gametangium jantan/anteridium) dan ovum (gametangium betina/arkegonium). Seperti pada lumut tumbuhan paku juga mengalami pergiliran keturunan/metagenesis. Metagenesis tersebut dibedakan antara paku homospora dan heterospora